Kita kerap mengira bahwa perlawanan selalu berwujud teriakan di jalanan, podium parlemen yang gaduh, atau panji-panji partai yang berkibar menentang kekuasaan. Namun, ada perlawanan lain yang jauh lebih dingin, ia tidak bersuara, tidak memegang megafon, tetapi berdenyut nyata dalam napas keseharian kita. Inilah oposisi senyap.

Oposisi ini tidak lahir dari ambisi merebut tahta. Ia hadir di meja makan sebuah keluarga yang perlahan mengurangi belanja lauk-pauknya. Ia tertera jelas pada angka-angka di slip gaji buruh, ketika upah riil tak lagi mampu mengejar harga-harga yang kian melambung tinggi. Di sudut pasar, ia mewujud pada tatapan seorang pedagang yang menatap deretan barang dagangannya yang tak kunjung susut.

Ketika statistik negara tersenyum bangga memamerkan pertumbuhan ekonomi di atas lima persen, kenyataan di lapangan justru berbisik sebaliknya. Di ruang-ruang kantor yang hening, oposisi senyap bekerja lewat pena para pengusaha yang memilih menunda ekspansi, membatalkan perekrutan tenaga kerja, atau memindahkan modal karena risiko yang kian membesar.

Mereka tidak menggelar unjuk rasa. Diamnya langkah mereka adalah sebuah sinyal koreksi yang paling jujur.

Negara mungkin bisa merangkul semua partai ke dalam lingkaran kekuasaan. Elit politik bisa diakomodasi, dan kritik di ruang publik bisa diredam. Namun, biaya dari sebuah kebijakan yang keliru tidak akan pernah bisa dikooptasi. Seseorang pada akhirnya harus membayarnya.

Kekuasaan mungkin sanggup mengonsolidasikan panggung politik, tetapi ia tak akan pernah mampu mengonsolidasikan realitas hidup rakyatnya. Di sanalah perlawanan itu tetap abadi senyap, hening, namun menuntut pertanggungjawaban yang nyata.