Di bawah temaram lampu jalanan kota yang dingin, Satria memandangi secarik kertas berstempel emas yang tersimpan rapi dalam lemarinya. Kertas itu dulunya adalah tiket menuju surga, dibayar lunas dengan peluh dan air mata orang tuanya yang lugu. Namun malam ini, sambil membelah angin malam demi mengantar pesanan makanan daring, ia sadar bahwa ijazah kebanggaannya tak lebih dari sekadar mahkota kertas. Sebuah gelar ilusif yang menobatkannya sebagai sarjana teknik tanpa ruang karya, selain merancang rute tercepat menghindari kemacetan.
Betapa lucunya dongeng pengantar tidur yang terus didengungkan kepada generasi ini. Duduklah yang manis, telan semua teori usang di ruang kuliah, raihlah predikat kelulusan tertinggi, dan dunia akan membentangkan karpet merah untukmu. Namun nyatanya, saat mereka melangkah keluar dari gerbang kampus, karpet itu telah lama digulung.
Di luar sana, altar suci bernama universitas terus menjelma menjadi mesin cetak raksasa yang memuntahkan barisan pemimpi ke padang pasir. Kampus membekali mereka dengan kompas berkarat, sementara di seberang lautan, industri sibuk memuja dewa baru bernama efisiensi. Mesin-mesin tanpa jiwa kini berdansa lincah di lantai produksi, merajut dan merangkai tanpa pernah mengeluh lelah. Lengan-lengan baja itu melahap habis kursi yang seharusnya diduduki manusia, sebab keringat kita kini dianggap terlalu merepotkan bagi dunia kapital yang mendewakan percepatan.
Kisah ini memuncak dalam ironi ketika para petinggi bernyanyi riang tentang grafik ekonomi yang meroket menembus awan. Mereka lupa bercerita bahwa roket itu hanya menyediakan kursi untuk segelintir kaum berpunya. Inilah kemakmuran yang sepi, sebuah pertumbuhan semu tanpa derap langkah pekerja.
Sungguh, tak ada penjahat tunggal dalam lakon menyayat hati ini. Kampus merasa suci, pabrik merasa rasional bertahan hidup, dan negara sibuk bersilat lidah. Pada akhirnya, para sarjana mudalah yang dibiarkan tersesat. Mereka didorong berlari di atas lintasan tanpa garis akhir, mengejar fatamorgana masa depan yang direnggut oleh dinginnya hegemoni baut dan algoritma.